Kutipan saya

"Tidak ada kata menyerah dalam belajar. jadikan kritik itu sebagai motivasi yang dapat membangun kita jadi lebih teliti akan kesalahan. Pahami setiap kesalahan yang terjadi. Jangan pernah lelah jika jatuh. Karena tekad yang kuat ditambah keuletan akan membawa kita pada keberhasilan."

Selasa, 23 Oktober 2012

Menulis Pantun ? lihat disini ya ..

A. Pengertian Pantun.

Karya sastra bermutu memberikan kesadaran kepada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup. kita pun dapat memperolah pemahaman yang mendalan tentang nilai-nilai kehidupan. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, pantun adalah sajak pendek, tiap-tiap kolet biasanya empat baris ab ab dan dua baris yang dahulu biasanya untuk tumpuan saja; pribahasa sindiran; sepantun; seperti; serupa; seumpama.
Disisi lain, menurut buku Pengantar Sastera Indonesia pantun adalah sejenis puisi lama, yang terdiri dari empat baris kalimat sebait. kalimat pada baris pertama bersanjak dengan dengan kalimat pada baris ke-3 dan kalimat pada baris ke-2 bersanjak dengan kalimat pada baris ke-4. jadi, pantun itu bersanjak ab/ ab yakni sanjak berpalang. Pada umumnya kalimat baris pertama dan ke-2 berisi sampiran dan kalimat baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi dan maksud dari pantun tersebut.
Sarjana sastera yang mula-mula menyelidiki ada atau tidaknya hubungan antara kedua baris sampiran dengan  kedua baris kalimat yang dibawah pantun itu, ialah sarjana barat :
1. Prof. Pijnappel
2. Prof. van Ophuijsen
3. Winsted
4. Wilkenson
5. Giakomo Prampolini
Sarjana dan ahli dari bangsa Indonesia yang telah mengemukakan pula pendapatnya dalam hal ini ialah :
1. Prof. Husein Jayadiningrat
2. Tk. Amir Hamzah
3. Madong Lubis
4. Intoyo
5. St. Takdir Alisyahbana.
Pada umumnya sarjana-sarjana tersebut membenarkan adanya hubungan halus antara kedua kalimat sampiran dengan kedua kalimat yang mengandung isinya walaupun di sana sini mereka berbeda pendapat.

B. Jenis Pantun.
Pantun merupakan seruling hati anak Indonesia lama (Melayu). Satu-satunya alat untuk mencurahkan perasaan yang sangat indah bagi anak melayu. Bukan saja orang muda yang menggemari pantun itu, anak-anak bahkan orang-orang tua pun tiada ketinggalan. oleh sebab itu dapatlah pantun itu kita bedakan atas beberapa jenis menurut usia orang yang memakainya (menurut isinya), yakni :
1. pantun anak-anak.
    Dunia kanak-kanak senantiasa diliputi oleh rasa riang dan duka oleh rasa geli dan pilu. jadi pantunnya pun menyatakan rasa yang demikian pula. Ada pantun riang gembira, ada pantun duka bersedih hati. Kadang-kadang kita jumpai pula pantun pengasah otak atau kiliran budi (teka-teki).
misalnya :
a. Pantun Kejenakaan.
Sungguh elok asam belimbing
tumbuh dekat limau lungga
Sungguh elok beradik sumbing
walaupun marah tertawa juga

b. Pantun teka-teki
taruhlah puan diatas peti
benang sutera dilipat jangan
kalau tuan bijak bestari
binatang apa susu delapan?

c. Pantun kedudukan
Lurus jalan ke Payakumbuh
kayu jati bertimbal jalan
dimana hati takkan rusuh
ibu mati bapak berjalan.

2. Pantun Muda (pantun orang muda)
Orang muda telah kaya dengan perasaan. Alam kehidupan orang muda tidak saja disinari cahaya riang gembira atau mendung duka nestapa, tetapi juga diliputi rindu, dendam dan kasih sayang. Jadi pantunnya pun melukiskan perasaan riang dan duka, kasih dan benci, rindu dan bosan.
Misalnya :

Elok jalannya ke kota tua
kiri kanan berbatang sepat
elok juga berbinik orang tua
perut kenyang ajaran pun dapat.

3. Pantun Tua
Orang tua telah lama hidup dan banyak yang telag dirasainya. telah jauh berjalan tentu banyak yang dilihatnya. Pengalamannya yang pahit, penglihatannya yang ganjil dijadikannya pedoman hidup bagi orang muda, agar jangan menyesal pada hari tua. Maka pantun tua berisikan petuah dan nasihat bagi anak cucunya kelak.
Misalnya :
a. Pantun Kiasan
Tingkap papan kayu persegi
riga-riga di pulau Angsa
indah tampak karena budi
tinggi bangsa karena bahasa

b. Pantun Nasihat
Pergi berburu mencari ikan
dapat ikan ikan layur
biar sobek baju di badan
asalkan hati bersih dan jujur

c. Pantun Adat
Berek-berek turun ke semak
dari semak turun ke padi
dari nenek turun ke mamak
dari mamak turun ke kami

d. Pantun Agama
Kemumu di dalam semak
jatuh melayang selaranya
meski ilmu setinggi tonggak
tidak sembahyang apa gunanya.

gimana..tidak begitu sulitkan untuk belajar berpantun.
mudah-mudahan tulisan ini berguna bagi yang membutuhkan ..

referensi : Buku "Pengantar Sastera Indonesia" dan "Kompeten Berbahasa Indonesia"